Friday, May 4, 2012

ikhlas


karya Hasna Hafizhah Salma


“Kasihan gadis itu, harus melalui hidupnya penuh dengan kepura-puraan.”
            Anna sedang tertawa bersama teman-temannya. Tawanya tidaklah tulus, terlihat dari guratan wajahnya tawanya penuh dengan paksaan. Anna selalu memasang wajah gembira, namun sikapnya yang kaku dan matanya yang redup membuat siapapun yang mengenalinya dengan baik akan berkata bahwa dia sedang berpura-pura. Anna tidak suka dikasihani. Itu yang membuat dia terlihat kuat.
            Saat Anna berusia lima tahun, ayahnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Anna yang tak mengerti, menangis setiap hari selama setahun. Sinar matanya yang selalu menggambarkan kebahagiaannya sudah tidak terpancar lagi. Sinar itu sirna entah kemana. Kebahagiaannya seakan hilang seiring kepergian ayahnya. Anna mengalami perubahaan drastis, ibunya hanya mampu menangis melihat perubahan Anna. Anna menganggap dirinya adalah gadis kecil sebatangkara, tidak memiliki apapun kecuali apa yang ada pada dirinya.
            Setahun berlalu, Anna perlahan kembali berubah. Sudah tidak menyendiri lagi. Tangisannya berganti tawa, sinar itu kembali menyala. Anna semakin mampu untuk menerima kenyataan bahwa ayahnya bahagia di sisi-Nya. Anna menyayangi ibunya lebih dari apapun. Kondisi ekonomi yang minim membuatnya bekerja keras membantu ibunya. Anna melakukan itu semua dengan ikhlas, tanpa paksaan.
            Sinar mata Anna sudah sepenuhnya kembali. Tawanya lepas dan ringan. Siapapun yang melihatnya akan berkata Anna adalah gadis yang tidak memiliki beban sama sekali. Apapun itu. Anna telah mengunci rapat-rapat kenangan masa lalunya dengan ayahnya. Sedikit demi sedikit kondisi ekonomi keluarganya terangkat. Anna mampu tersenyum lepas, tanpa beban.
            Sepertinya Tuhan sayang pada Anna, Anna diuji kembali oleh-Nya. Ibunya jatuh sakit. Anna banting tulang menggantikan ibunya untuk mencari nafkah. Kondisi ekonominya kembali menurun, bahkan sudah di bawah batas miskin. Anna berhenti sekolah. Uang yang didapatnya sebagian untuk membeli obat ibunya, dan sebagiannya lagi untuk membeli makan untuk dirinya dan ibunya. Namun sinar itu masih ada, menyala. Seakan mengatakan bahwa Anna baik-baik saja. Tidak terjadi apapun pada dirinya dan keluarganya. Walaupun tiap malam, rindu itu menyerang. Anna menangis dalam sujudnya setiap kali ia rindu pada ayahnya. Berharap Tuhan menyampaikan salamnya untuk ayahnya tercinta.
            Saat Anna beranjak lima belas tahun, Tuhan benar-benar mengujinya. Ibunya kembali pada-Nya, menghadap-Nya dengan tenang dan senyuman. Anna tidak menangis, tidak juga tertawa, dan Anna tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Datar. Sinar matanya redup, tawanya tidak serenyah dulu, semuanya hancur seketika. Dia merasa bahwa Tuhan tidak sayang padanya. Tuhan tidak adil. Tuhan tidak mampu membuatnya tersenyum bahagia.
“Kau baik-baik saja Ann?” seseorang menepuk Anna lembut. Anna terlonjak. Menghindar.
“jangan sentuh aku.” Anna berteriak. Seseorang itu terenyuh. Namun kasih sayangnya tidak sirna. Seseorang itu percaya bahwa kelembutan akan melunakannya. Anna tidak mendekat juga tidak menjauh dari posisi dimana ia berdiri. Ibunya kini sudah sepenuhnya terkubur. Pelayat sudah pada pulang. Kecuali seseorang yang bertanya dengan lembut pada Anna. Dia masih berdiri di dekat Anna, menunggu sampai pertahanan Anna rapuh. Seseorang yang sangat dekat dengan Anna. Bila, sahabatnya.
            “TUHAAAAAAAN! MENGAPA INI HARUS TERJADI?! KAU MENGAMBIL SEMUA ORANG YANG KUSAYANG!!! APA SALAHKU PADAMU TUHAN?! SHOLAT DAN IBADAH SELALU KULAKUKAN DENGAN BAIK!!! TUHAN KEMBALIKAN MEREKA!!!” pertahanan Anna rapuh seketika. Tangisnya meledak. Sinar matanya kian redup. Bila merengkuhnya erat.
“apa salahku bil? Apa salahku pada Allah, Bil? Kenapa Dia ngelakuin ini Bil? Aku sayang mereka, tapi mereka jahat sama aku. Mereka janji bakal nemenin aku sampai aku dewasa. Tapi mereka ngingkarin janji. Aku punya siapa sekarang??? Bila, apa Allah marah???” Tangis Anna makin pecah. Pernyataan dan pertanyaan menunjukan penyesalan dan penuntutan. Bila tidak dapat menjawab pertanyaannya. Dan mungkin Anna tidak membutuhkan jawabannya. YaAllah, kuatkanlah sahabatku…ampunilah dia dalam ucapannya yang kemungkinan sedang khilaf.. doa Bila dalam hati. Tangis Anna semakin  menjadi. Sinar matanya kini telah menghilang, sembab di matanya menunjukan bahwa dia sudah tak mampu menerima beban ini sendirian, dia tak ingin sendirian.
“aku malu Bil, aku malu. Aku belum sempat meminta maaf pada ibuku. Aku belum sempat membuat ibuku bahagia. Aku hanya nyusahin mereka. Aku hanya dapat berbohong pada mereka. Aku jahat sama mereka. Tapi mereka lebih jahat lagi sama aku, mereka ninggalin aku di saat aku butuh mereka. Di saat aku merasa manusia yang paling beruntung memiliki orangtua sebaik mereka. Tapi mereka pergi gitu aja. Aku hina bil. Aku hina!!!!!” Anna mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Semakin lama pernyataannya terdengar memaki dirinya sendiri. yaAllah, aku tak mampu melihatnya seperti ini, aku benar-benar tak mampu… batin Bila.


“Hidup bukanlah tentang satu hal. Semua akan kembali pada-Nya, dan kita harus mengikhlaskannya. Percayalah,  selalu ada pelangi disela-sela hujan.” – Aku.

Tuesday, May 1, 2012

Ketulusan Hati


Karya: Hasna Hafizhah Salma

 





Danisa terpaku. Tak ada yang bisa dia lakukan selain melihat dari kejauhan. Tubuh Danisa melemah seketika. Danisa tak tahu  apa yang terjadi, yang dia tahu hanya satu, ia ingin menangis. Sudah lama Danisa memendam ini semua, tidak ada yang tahu selain dia dan Tuhan. Danisa tak mampu mengukir berbagai kata atas kesedihannya. Ingin tersenyum namun tak mampu, ingin berteriak rasanya sekeras apapun ia berteriak tak ada satupun suaranya yang terdengar. Saat ini ia merasa Tuhan benar-benar tidak adil.
            “Dan…” Suara lembut terdengar memanggilnya. Danisa menoleh. Ibu. Tanpa menunggu apapun, Danisa langsung memeluk erat ibunya, seakan mengatakan “ibu kuatkan aku”. Ibunya memeluk lembut dan penuh sayang. Danisa sudah tidak mampu menahannya sendirian, Danisa terisak. Ibu mempererat pelukannya dengan lembut.
“Bu, aku menyayanginya..” ucap Danisa lirih.
            Setelah hari pemakaman Farhan, sudah tidak ada lagi yang dapat menghibur Danisa. Farhan sahabatnya yang bisa mengerti dan selalu membuatnya nyaman. Danisa mengerti, bersahabat dengan lawan jenis memungkinkan jatuhnya perasaan lain. Seperti dirinya saat ini. Namun, sebisa mungkin Danisa menahan perasaannya. Menitipkannya pada Yang Maha Kuasa. Menjadikannya motivasi atas dirinya, berusaha mungkin tidak menodai rasa yang fitrah itu.
            Tak ada yang mengerti perasaan Danisa bagaimana. Sampai Farhanpun hanya mengetahui Danisa menganggapnya sahabat, tidak lebih. Farhan yang saat itu sedang gila dengan yang namanya perempuan, menceritakan semuanya pada Danisa. Danisa menanggapinya dengan bijak, tidak memikirkan dirinya dan perasaannya. Dia memendam dalam-dalam, walau perlahan hatinya tersayat halus. Danisa paham mengenai agama, sebisa mungkin dia tidak membawa perasaannya, sebisa mungkin dia menempatkannya pada hal yang tepat. Danisa terlihat manis dengan balutan jilbab di tubuhnya, dia bersahabat dengan Farhan namun menjaga sebisa mungkin kehormatannya. Tidak pernah Danisa bersentuhan dengan lawan jenisnya, tak terkecuali Farhan.
            Banyak perempuan di sekolahnya yang menyukai Farhan dan mendekatinya hanya sekedar mengorek informasi mengenai Farhan. Danisa hanya memberi tahu kebaikan yang Farhan miliki, itu membuat teman-teman perempuan Danisa semakin menyukai Farhan. Namun Farhan tidak pernah mengubrisnya. Farhan yang terkesan kalem mempunyai sejuta rahasia tersimpan rapih dalam memori Danisa, membuatnya semakin menarik. Danisa selalu menitipkan kembali apa yang diceritakan Farhan padanya kepada Tuhan. Danisa menaruh harapan pada Tuhan, dan berharap Tuhan senantiasa menjaga perasaannya hingga tidak berzina. Danisa hanya ingin, Farhan bahagia. Dia tidak menginginkan apapun darinya. Danisa selalu mendoakan Farhan dalam tiap sujudnya. Namun di saat dia sudah benar-benar ikhlas dan menitipkan seluruh perasaannya pada Tuhan, Tuhan mengujinya. Seakan Tuhan menginginkan seberapa Danisa telah mengikhlaskannya dan menitipkan pada- Nya. Farhan pergi meninggalkannya, bukan untuk sementara waktu namun selamanya. Sayatan luka di hatinya perlahan membesar, Danisa mencoba perlahan memperbaikinya. Tak pernah berhenti mendoakan Farhan dalam tiap bait doanya. Ibunya pun, penguat dirinya selalu disebutnya dalam bait-bait doa malamnya. Terimakasih Tuhan, atas rasa yang Kau berikan ini. Kau memberiku kesempatan mengenai arti ketulusan. Hati Danisa berbicara.
            “Bu, terimakasih.” Danisa memeluk ibu erat.
“Untuk?” ibu membalas pelukan Danisa dengan lembut. Danisa tersenyum.
“semuanya”.

10 Cara Agar Berhasil Bangun Lebih Pagi


Berapa kali Anda bertekad bangun lebih pagi tapi tak pernah bisa menghindari dari godaan tombol "Snooze" di jam alarm?

Niat saja tak cukup untuk membuat angan-angan bangun pagi jadi kenyataan. Kita juga perlu menyertainya dengan sejumlah usaha yang bisa membuat kita mau tak mau harus bangun juga.

Berikut beberapa cara yang mungkin bisa membantu.
1. Tidur efektif
Semua juga tahu kalau ingin bangun lebih pagi kita sebaiknya tidur lebih awal. Tapi percuma saja tidur selama delapan jam jika tidur kita tidak efektif. Jika posisi tidur tak nyaman, bantal terlalu tinggi, atau suhu kamar terlalu dingin, kita akan terbangun berkali-kali di tengah malam, dan tubuh pun merasa kita belum mendapat cukup istirahat.

2. Hindari kopi, red wine, dan cokelat sebelum tidur
Penelitian menunjukkan tiga jenis makanan dan minuman ini adalah yang paling berpotensi mengganggu tidur. Mengonsumsinya di malam hari bisa membuat perut Anda bergejolak di malam hari dan tidur pun tak nyaman.

3. Buka tirai jendela kamar
Begitu matahari terbit, sinarnya akan masuk ke kamar dan membantu Anda terbangun.

4. Geser rutinitas Anda jadi lebih pagi
Jika biasanya Anda memulai aktivitas sehari-hari jam 8 pagi, tambahkan beberapa aktivitas tambahan yang dilakukan di jam 7 pagi. Misalnya jogging, berenang di kolam belakang kompleks, memasak sarapan sendiri, menulis untuk blog, atau apa pun aktivitas yang Anda senangi. Lakukan secara rutin setiap hari hingga jadi bagian gaya hidup Anda.

5. Gunakan 2 alarm
Anda biasa menyimpan jam alarm (atau menggunakan alarm ponsel) di samping tempat tidur? Silakan. Tapi pasang juga satu alarm lain, kalau bisa yang bunyinya lebih kencang, di tempat yang berjarak minimal 5 langkah dari tempat tidur. Mau tak mau Anda harus bangun untuk mematikannya. Tapi setelah itu jangan tidur lagi, ya.

6. Simpan segelas air di samping tempat tidur
Begitu alarm berbunyi, duduklah di tempat tidur dan minum segelas air yang sudah disediakan. Sampai habis. Ini berguna untuk membuat tubuh Anda siap beraktivitas dan tak ingin kembali tidur.

7. "Jump out of bed"
Istilah dalam bahasa Inggris ini bisa diartikan secara harfiah. Setelah mematikan alarm, langsung bangkit dan "melompat" turun, lalu jauhi tempat tidur.

8. Pikirkan hal menarik yang akan terjadi hari ini
Sebelum memutuskan untuk tidur lagi, pikirkan rencana kegiatan yang akan Anda jalani hari ini. Jika Anda bangun lebih pagi, tentunya akan ada lebih banyak waktu untuk bersiap-siap, memilih busana terbaik, menata rambut, dan berdandan dengan lebih maksimal. Menyenangkan, bukan?

9. Jadikan kebiasaan
Oke, Anda sudah berhasil bangun lebih pagi dari Senin hingga Jumat. Weekend bisa bangun jam 10 lagi, dong? Jangan salah. Tubuh bekerja menyesuaikan dengan jadwal yang sudah jadi kebiasaan. Jika Anda sudah membiasakan diri selama seminggu untuk bangun pagi, seterusnya tubuh Anda akan terbangun sendiri di jam yang sama. Namun jika rutinitas itu dirusak (tiba-tiba Anda kembali bangun siang selama 3 hari), tubuh pun akan mengikuti jadwal yang baru.

10. Pikirkan risikonya
Setiap Anda berpikir, "Tidur lagi deh, 15 menit lagi," ingatlah bahwa rata-rata manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur. Jadi jika Anda diberi usia hingga 70 tahun, Anda akan menghabiskan lebih dari 20 tahunnya untuk tidur. Jadi, lupakan tidur 15 menit lagi. Anda masih punya banyak waktu untuk tidur besok-besok.


from: id.yahoo.com

Tembok Besar Cina


Geliat Naga 10.000 Li

Rakyat Cina menjulukinya Dinding 10.000 Li. Tak hanya menggambarkan panjangnya, tapi juga lama pembangunannya. Berawal dari tembok pertahanan yang dibangun Negara Chu di tahun 656 SM. Hingga zaman pemerintahan Dinasti Ming, kurang lebih 2.700 tahun kemudian.

Di masa Dinasti Ming, Tembok Besar Cina membentang sepanjang 6.350 km. mulai dari Shanhaiguan di sebelah timur, melewati perbatasan Cina dan Manchuria, hingga Lop Nur, di sebelah tenggara daerah otonomi Xinjiang Uygur. Bagai seekor naga yang tengah menggeliat, menghadang musuh-musuh Cina.




Peralihan Wujud “Sang Naga”

Sebelum Cina bersatu, Tembok Besar hanyalah deretan dinding pertahanan Negara-negara militer penguasa daratan Cina di lembah Sungai Yangtze, lembah Sungai Kuning dan wilayah utara perbatasan. Ketika Kaisar Qin Shihuang berkuasa, sebagian diruntuhkan dan sebagian lagi menjelma menjadi Tembok Besar Cina – tembok kokoh sepanjang 2.414 km. di zaman Dinasti Ming, rancang bangunannya disempurnakanmenjadi tembok sepanjang 6.350 km. Sampai saat ini sisa-sisa sosok “sang Naga” masih dapat dilihat.




Sang Kaisar Melindungi Negeri

Sepanjang Sejarah, Tembok Besar Cina selalu dihubungkan dengan kaisar pertama Cina, Qin Shihuang (221 SM – 207 SM). Setelah mempersatukan seluruh daratan, ia mencurahkan segenap upayanya untuk melindungi Cina.

Ia mengerahkan lebih dari 300.000 orang untuk melakukan kerja paksa membangun Tembok Besar dari Linzhao di Timur hingga Liodong di barat. Selama sepuluh tahun pembangunan, puluhan ribu orang menjadi korban. Tak heran ia dikenang sebagai penguasa bertangan besi. Namun berkat dirinyalah Tembok Besar untuk pertama kalinya dibangun demi melindungi Cina.




Jasa Penguasa Tangan Besi

Qin Shihuang atau Shi Huang Ti yang berarti Kaisar pertama adalah gelar yang digunakan Zheng, sang penguasa Negara Qin. Ia melakukan enam Negara militer yang berkuasa untuk mempersatukan seluruh daratan Cina di tahun 221 SM. Shi Huang Ti dikenal sebagai penguasa bertangan besi.

Menara Eiffel, Prancis


Apa yang membuat Menara Eiffel begitu mengagumkan?

Pertama, tentunya karena Eiffel memecahkan rekor bangunan tertinggi di dunia pada akhir abad 19. Rekor Monumen Washington di kota Washington D.C, Amerika Serikat yang bertinggi 169 meter dipecahkan. Tinggi Eiffel hampir 2 kali tinggi Monumen Washington, yaitu 300 meter.

Kedua, Eiffel melawan tradisi zamannya. Saat itu, baja sedang diagungkan sebagai bahan bangunan terkuat, namun Alexandre Gustav Eiffel –perancangnya- justru menggunakan besi tempa.

Ketiga, karya seni dari kerangka besi tempa yang menjulang tinggi tersebut kerap dianggap sebagai symbol zaman keemasan ilmu pengetahuan dan seni.



Pembangunan Super Kilat

Gustava Eiffel menandatangani kontrak untuk membangun Menara Eiffel tanggal 08 Januari 1887. Menara mulai dibangun bulan April 1888 dan selesai dibangun hanya dalam waktu 1 tahun 1 bulan, yaitu pada bulan Mei 1889. Gustave Eiffel memimpin sendiri pembangunan yang sangat cepat itu dibantu 230 pekerja.

Kekuatan konstruksi bangunan sangat matang diperhitungkan.
Anjungan pertama, yang tingginya 57 meter, memiliki enpat kaki yang saling dihubungkan dengan lengkungan dekoratif.
Anjungan kedua, yang tingginya 115 meter, kaki itu benar-benar menjadi satu.
Anjungan ketiga,  yang bertinggi 276 meter dipasangi teras.

Dari kejauhan, Menara Eiffel mungkin tampak ringan dan halus, tetapi sebenarnya amat kokoh. Batang besi penguat dipasang di persilangan, menyebarkan bobot secara merata.



Benarkah Eiffel Sempat Diprotes Para Pujangga Paris?

Pembangunan Menara Eiffel tidak berjalan mulus. Dua bulan setelah pembangunan konstruksi menara, sekelompok pujangga dari Paris menyampaikan petisi kepada pemerintah untuk menghentikan pembangunan menara. Mereka menganggap Menara Eiffel sebagai “yang memalukan Paris” dari sgi estetika bangunan. Namun setelah Eiffel selesai dibangun dengan garis-garis indah dan jalinan batang besi yang halus, para pengritik pun ikut mengagumi menara!

notitle~~~

bagaimana bila ku telah tiada?
akankah ada yang mengenangku dengan baik?
atau aku akan terlupakan seiring berjalannya waktu?
entahlah,
ceritaku belum berakhir,
sampai aku benar-benar tiada

notitle~~~~

Percayakah kamu?
aku menunggumu dalam diam.
percayakah kamu?
aku berharap akan kehadiranmu
percayakah kamu?
aku merelakan kebahagiaanmu,
meski tak di sisiku.


aku berbeda,
aku tidak sama seperti mereka,
yang kau cinta
layaknya manusia paling sempurna


aku berbeda,
aku tidak seperti apa yang kau minta
aku apa adanya diriku
tak sama seperti mereka
yang rela berubah hanya untukmu


aku berbeda,
cukup bagiku mengagumimu dalam diam,
sepi dan sendiri ku menepi
di kala mereka mendatangimu
dengan sejuta senyum dan tawa



aku berbeda,
di saat mereka mampu membuatmu tertawa,
aku hanya mampu membuatmu marah,
atas apa yang ada padaku



cerita ini begitu sulit untuk kujelaskan,
aku yang memilihmu dalam sepi,
aku yang memperhatikanmu dalam diam,
dan kau tak pernah mengerti
inginnya hati ini



namun aku masih sama,
masih di sini,
mencoba tak peduli,
memaki diri ini



Tuhan,
aku percaya,
bila dia memang berjodoh denganku,
tak perlu hubungan khusus untuk memulai

Tuhan,
aku percaya,
bila memang dia jodohku,
ikatan kami kan Engkau halalkan,
bila kami sudah menggapai cita dan mimpi


Tuhan,
namun bila itu semua hanya khayalan,
jadikanlah aku kuat,
dan berikanlah padaku
jodoh yang lebih baik dari dirinya.