Mawar hari ini terlihat layu,
tidak bersahabat tidak pula merayu.
Entah mengapa hujan pun turun,
merajuk manja kepada sang bumi.
Hati terlampau cinta
malah jadinya membelenggu...
berharap yang baru berbeda,
nyatanya sama saja...
selalu membuatku terluka.
entahlah,
siapa yang salah kutak peduli.
mungkin aku yang terlalu peka.
menduga dan mengira
tanpa kompromi yang pasti
entahlah,
siapa yang jatuh
dan siapa yang mencinta
yang jelas aku telah jatuh
dan berlabuh di hati yang salah
mungkin bukan cinta
hanya rasa kagum yang mendalam
entahlah,
selalu berakhir seperti ini
tapi tak pantas kukeluhkan
takdirku sudah pasti
hanya hati yang belum pasti
meninggalkan cerita dan kenangan
menyisakan harap dalam gundah
entahlah,
rasa itu makin menjadi
dan aku semakin terhimpit
terjepit antara sakit dan bahag ia
tak selalu sendiri
hanya saja sering
entahlah,
berharap ia tak rasa
biar ku merasakannya sendiri
menangis daalam tawa
menyunggingkan senyum penuh arti
entahlah,
masih saja sama
aku mengulanginya lagi
mencintai untuk disakiti
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
Friday, September 7, 2012
Saturday, May 12, 2012
notitle~
karya Hasna Hafizhah Salma
entah apa yang harus kukatakan,
haruskah aku menangis?
utarakan maksud hati?
tanpa harus ku berpura-pura
atau haruskah kulalui
cerita hati tanpa menepi
berlalunya waktu sendiri
menuju hati kian pasti
begitu rumit untuk kujelaskan
terlalu rapuh untuk kujabarkan
penuh tawa sembunyikan derita
perih hati makin merana
entah apa yang harus kukatakan,
haruskah aku menangis?
utarakan maksud hati?
tanpa harus ku berpura-pura
atau haruskah kulalui
cerita hati tanpa menepi
berlalunya waktu sendiri
menuju hati kian pasti
begitu rumit untuk kujelaskan
terlalu rapuh untuk kujabarkan
penuh tawa sembunyikan derita
perih hati makin merana
Friday, May 11, 2012
notitle~
karya hasna hafizhah salma
jerit hati tak menentu
tertahan sedih yang berliku
tersenyum palsu di tengah kaku
menarik rindu dalam bisu
aku berlari menembus waktu
membelah jalan menahan pilu
bertabur derita tawa palsu
hinaan diri makin menusuk
setia dalam menunggu
harap cemas bercampur satu
semuanya terukir penuh
dalam cerita berbatas waktu
kutinggalkan hamparan ragu
meninggalkan asa dalam belenggu
kupaksakan hati menuju
tak kembali pada yang lalu
jerit hati tak menentu
tertahan sedih yang berliku
tersenyum palsu di tengah kaku
menarik rindu dalam bisu
aku berlari menembus waktu
membelah jalan menahan pilu
bertabur derita tawa palsu
hinaan diri makin menusuk
setia dalam menunggu
harap cemas bercampur satu
semuanya terukir penuh
dalam cerita berbatas waktu
kutinggalkan hamparan ragu
meninggalkan asa dalam belenggu
kupaksakan hati menuju
tak kembali pada yang lalu
Senada Harap dalam Badai
karya Hana Nabilah
Serumit nada dalam diam
merengkuh hina bercampur darah
tertutup keji dibalut suara
melambai indah tertarik angan
penari janji bertabur dusta
menarik hidup dan jalurnya
sepahit racun pada tawa
menetes cinta terhapus dendam
teriakan padu mengalun tajam
menuju harap berlatas palsu
tersungging indah senyum paksaan
merajut kasih berjarum hitam
terlampau benci dibalas rindu
menyunting kisah dibalik awan
kau tak harus menyentuh langit
karena tinggi terlalu kejam
melukis arah terbawa harap
menyunting kisah dibalik awan
sehelai rambut memaksa diam
menyerapi hidup kelu tanpa jeda
menghentikan angan tinggi
tertarik kutu tak tahu diri
sehelai yang tak berguna
menyendiri diatas lahan tanpa kawan
tertahan akar berlapis baja
meratap hidup bukan jalannya
seikat ijuk menghapus duka
membelai kasih berserak cinta
menyapu pasir yang tak berguna
terinjak telapak berkuman seribu
membawa hidup ke dunia lain
kehidupan baru di alam mimpi
setitik semangat tinta harapan
menggoreskan seulas senyum diatas awan
menerka tawa berbalas hina
terbantu burung menarik terbang
memanah tujuan hidup
tak selalu disaut ceria
petir api merusak langit
menoreh kisah berlatar kehampaan
satu dalam seribu
menjilat bulu putih bertekstur lembut
lidah tak berdosa menjadi senjata
menelan berjuta bakteri tanpa pinta
matahari membakar kulit dengan paksa
berjuta lalat hitam menyergapinya
meminta lebih dan tak ada habisnya
rasa puas sirna tanpa perintah
terlelap diri dan indahnya
lautan keringat mengalir deras
mematahkan tulang-tulang tak berdaya
menggerogoti pikiran untuk bahagia
terlena mata dengan hijaunya
selembar pun akan terampas
tak ada ampun untuk terus berjuang
mengorek peruntungan demi memilikinya
maksud hati melukis tawa
tak sampai arah karena badainya
tertumpah warna diatas awan
mengubah rasa menjadi harap
tertutup awan berubah gelap
jingga langit mengajak diri terbang
menorehkan suka dengan anginnya
terpatah tatap diujung luka
menyingkirkan ego pada teriknya
Serumit nada dalam diam
merengkuh hina bercampur darah
tertutup keji dibalut suara
melambai indah tertarik angan
penari janji bertabur dusta
menarik hidup dan jalurnya
sepahit racun pada tawa
menetes cinta terhapus dendam
teriakan padu mengalun tajam
menuju harap berlatas palsu
tersungging indah senyum paksaan
merajut kasih berjarum hitam
terlampau benci dibalas rindu
menyunting kisah dibalik awan
kau tak harus menyentuh langit
karena tinggi terlalu kejam
melukis arah terbawa harap
menyunting kisah dibalik awan
sehelai rambut memaksa diam
menyerapi hidup kelu tanpa jeda
menghentikan angan tinggi
tertarik kutu tak tahu diri
sehelai yang tak berguna
menyendiri diatas lahan tanpa kawan
tertahan akar berlapis baja
meratap hidup bukan jalannya
seikat ijuk menghapus duka
membelai kasih berserak cinta
menyapu pasir yang tak berguna
terinjak telapak berkuman seribu
membawa hidup ke dunia lain
kehidupan baru di alam mimpi
setitik semangat tinta harapan
menggoreskan seulas senyum diatas awan
menerka tawa berbalas hina
terbantu burung menarik terbang
memanah tujuan hidup
tak selalu disaut ceria
petir api merusak langit
menoreh kisah berlatar kehampaan
satu dalam seribu
menjilat bulu putih bertekstur lembut
lidah tak berdosa menjadi senjata
menelan berjuta bakteri tanpa pinta
matahari membakar kulit dengan paksa
berjuta lalat hitam menyergapinya
meminta lebih dan tak ada habisnya
rasa puas sirna tanpa perintah
terlelap diri dan indahnya
lautan keringat mengalir deras
mematahkan tulang-tulang tak berdaya
menggerogoti pikiran untuk bahagia
terlena mata dengan hijaunya
selembar pun akan terampas
tak ada ampun untuk terus berjuang
mengorek peruntungan demi memilikinya
maksud hati melukis tawa
tak sampai arah karena badainya
tertumpah warna diatas awan
mengubah rasa menjadi harap
tertutup awan berubah gelap
jingga langit mengajak diri terbang
menorehkan suka dengan anginnya
terpatah tatap diujung luka
menyingkirkan ego pada teriknya
Subscribe to:
Posts (Atom)