Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, May 4, 2012

welfare~


karya Hasna Hafizhah Salma

 Hidup itu penuh rintangan. Bukan sekali dua kali, namun berkali-kali. Hidup itu punya banyak rasa, bukan hanya bahagia namun bisa juga sedih atau apapun. Hidup itu penuh dengan pilihan. Salah memilih, berakibat fatal bagi hidup itu sendiri. Dan hidup itu hanya sekali, jangan disia-siain sama pilihan yang salah.
            Zahra berjalan tanpa tujuan. Dia hanya mengikuti kemana kakinya kan berjalan. Zahra bukan gadis yang tegas, hidupnya dipenuhi dengan kebimbangan. Dia tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Di saat Zahra menemukan persimpangan, ia tidak mampu memilih, ia tidak tahu harus memilih yang mana. Zahra hanya ingin kebahagiaan, ia tidak ingin salah pilih dan akhirnya sedih berkepanjangan. Zahra mampu beribu-ribu kali untuk tertawa, namun Zahra takut untuk terjatuh. Terlalu takut, sampai ia tak menemukan apapun dalam hidupnya. Datar.
            Sampai suatu hari, Zahra merasa jatah bahagianya telah diambil oleh Tuhan. Ayahnya di PHK, ibunya sakit keras. Zahra yang tidak biasa dengan ketidakcukupan hanya mampu mengeluh dan mengeluh. Dadanya seakan sesak setiap ia tidak dapat menemukan sepeser uang di dompetnya. Bagi Zahra kebahagiaan hanyalah materi. Ayahnya frustasi, mabuk-mabukan dan tidak mengurus ibunya. Sakit yang diderita ibunya semakin parah. Zahra menahan tangis. Pilu untuk mengatakan bahwa ini nyata, bukan mimpi. Zahra ingin berteriak, namun suaranya sudah tidak mampu meneriakan apa yang ingin dikatakannya saat melihat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan membawa perempuan lain di rumahnya. Zahra hanya menahan nangis dan emosi. Ibunya yang semakin hari semakin memburuk, membuat Zahra harus banting tulang untuk mengobati ibunya. Semakin hari semakin buruk pula tingkah laku ayahnya. Setiap melihat hal-hal baru yang dikerjakan ayahnya selalu membuat dada Zahra sesak, seakan ingin mati saat itu juga.
            Ibu Zahra sudah tidak tertolong. Ibu meninggalkannya sebatang kara. Zahra merasa bahwa Tuhan tidak adil, ia ingin tersenyum namun tidak mampu. Ia ingin menangis, namun tertahan. Sahabatnya hanya datang padanya saat ia kaya. Zahra merasa ingin memutar waktu, seperti dulu.
            Ayahnya tidak ada perubahan sedikitpun, dia masih saja tetap mabuk-mabukan. Pada hari pemakaman ibu, ayahnya tidak terlihat batang hidungnya. Tidak ada yang menguatkan Zahra saat itu. Dia merasa, Tuhan sedang mengujinya.
            Di hari yang berbeda, Zahra mencoba mengikhlaskan semuanya. Kini ia tinggal bersama paman dan bibinya. Zahra hendak berjalan-jalan mencari ketenangan. Saat ia sedang duduk dan menunggu bis datang di halte, seorang pengemis mendatanginya. Saat itu Zahra hanya mempunyai sepeser uang lima ribu. Pengemis itu terlihat tampak lelah, Zahra tidak tega melihatnya. Zahra memberikan uang satu-satunya miliknya kepada pengemis itu. Pengemis itu tersenyum sembari mengucapkan terimakasih dan mendoakannya. Uangnya sudah habis. Zahra tidak jadi naik bis, dia berjalan kaki menuju rumah pamannya. Lelah yang biasa ia rasakan kini tidak terasa sama sekali. Hanya perasaan bahagia bercampur lega dari dalam hatinya. Di sudut persimpangan dekat rumah pamannya, Zahra melihat seorang gembel mendatangi seorang pengemis dan meminta sepeser uang. Zahra tau pengemis itu hanya memiliki makanan yang hendak dimakannya itu, pengemis tadi tidak jadi memakannya, ia memberikannya pada gembel yang mendatanginya. Zahra merasa hatinya teduh.
            Sampai di rumah pamannya, ia melihat ayahnya sedang menunggu di ruang tamu. Ayahnya tersenyum padanya, rambutnya beserta pakaiannya sangat rapih. Zahra hendak memasuki rumah pamannya, ayahnya memeluk dengan erat. Zahra ragu untuk membalasnya.
“ayah sudah mendapat pekerjaan lagi. Maafkan ayah yang menyia-nyiakan sisa hidup ibumu dan kamu Zahra. Ayah berjanji akan membahagiaakanmu sampai ayah kembali pada-Nya.” Zahra tidak mampu berkata apapun. hening seketika. Hanya terdengar isakan pelan Zahra. Ayahnya melepaskan pelukannya. Zahra mengangguk dan tersenyum.
            Kini semuanya terasa membahagiakan. Zahra selalu mencoba ikhlas dan bersyukur atas apa yang telah ia miliki. Ia selalu merasa bahagia dari dasar hatinya. Tidak terpaksa, tidak karena materi. Kebahagiaannya berawal dari sebuah kebaikan dan ketulusan. Tuhan selalu adil dengan cara-Nya sendiri. J


“kebahagiaan bukan apa yang kamu miliki. Kebahagiaan berasal dari hati nuranimu yang bersedia menerima apapun atas dirimu.” – anonim.

ikhlas


karya Hasna Hafizhah Salma


“Kasihan gadis itu, harus melalui hidupnya penuh dengan kepura-puraan.”
            Anna sedang tertawa bersama teman-temannya. Tawanya tidaklah tulus, terlihat dari guratan wajahnya tawanya penuh dengan paksaan. Anna selalu memasang wajah gembira, namun sikapnya yang kaku dan matanya yang redup membuat siapapun yang mengenalinya dengan baik akan berkata bahwa dia sedang berpura-pura. Anna tidak suka dikasihani. Itu yang membuat dia terlihat kuat.
            Saat Anna berusia lima tahun, ayahnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Anna yang tak mengerti, menangis setiap hari selama setahun. Sinar matanya yang selalu menggambarkan kebahagiaannya sudah tidak terpancar lagi. Sinar itu sirna entah kemana. Kebahagiaannya seakan hilang seiring kepergian ayahnya. Anna mengalami perubahaan drastis, ibunya hanya mampu menangis melihat perubahan Anna. Anna menganggap dirinya adalah gadis kecil sebatangkara, tidak memiliki apapun kecuali apa yang ada pada dirinya.
            Setahun berlalu, Anna perlahan kembali berubah. Sudah tidak menyendiri lagi. Tangisannya berganti tawa, sinar itu kembali menyala. Anna semakin mampu untuk menerima kenyataan bahwa ayahnya bahagia di sisi-Nya. Anna menyayangi ibunya lebih dari apapun. Kondisi ekonomi yang minim membuatnya bekerja keras membantu ibunya. Anna melakukan itu semua dengan ikhlas, tanpa paksaan.
            Sinar mata Anna sudah sepenuhnya kembali. Tawanya lepas dan ringan. Siapapun yang melihatnya akan berkata Anna adalah gadis yang tidak memiliki beban sama sekali. Apapun itu. Anna telah mengunci rapat-rapat kenangan masa lalunya dengan ayahnya. Sedikit demi sedikit kondisi ekonomi keluarganya terangkat. Anna mampu tersenyum lepas, tanpa beban.
            Sepertinya Tuhan sayang pada Anna, Anna diuji kembali oleh-Nya. Ibunya jatuh sakit. Anna banting tulang menggantikan ibunya untuk mencari nafkah. Kondisi ekonominya kembali menurun, bahkan sudah di bawah batas miskin. Anna berhenti sekolah. Uang yang didapatnya sebagian untuk membeli obat ibunya, dan sebagiannya lagi untuk membeli makan untuk dirinya dan ibunya. Namun sinar itu masih ada, menyala. Seakan mengatakan bahwa Anna baik-baik saja. Tidak terjadi apapun pada dirinya dan keluarganya. Walaupun tiap malam, rindu itu menyerang. Anna menangis dalam sujudnya setiap kali ia rindu pada ayahnya. Berharap Tuhan menyampaikan salamnya untuk ayahnya tercinta.
            Saat Anna beranjak lima belas tahun, Tuhan benar-benar mengujinya. Ibunya kembali pada-Nya, menghadap-Nya dengan tenang dan senyuman. Anna tidak menangis, tidak juga tertawa, dan Anna tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Datar. Sinar matanya redup, tawanya tidak serenyah dulu, semuanya hancur seketika. Dia merasa bahwa Tuhan tidak sayang padanya. Tuhan tidak adil. Tuhan tidak mampu membuatnya tersenyum bahagia.
“Kau baik-baik saja Ann?” seseorang menepuk Anna lembut. Anna terlonjak. Menghindar.
“jangan sentuh aku.” Anna berteriak. Seseorang itu terenyuh. Namun kasih sayangnya tidak sirna. Seseorang itu percaya bahwa kelembutan akan melunakannya. Anna tidak mendekat juga tidak menjauh dari posisi dimana ia berdiri. Ibunya kini sudah sepenuhnya terkubur. Pelayat sudah pada pulang. Kecuali seseorang yang bertanya dengan lembut pada Anna. Dia masih berdiri di dekat Anna, menunggu sampai pertahanan Anna rapuh. Seseorang yang sangat dekat dengan Anna. Bila, sahabatnya.
            “TUHAAAAAAAN! MENGAPA INI HARUS TERJADI?! KAU MENGAMBIL SEMUA ORANG YANG KUSAYANG!!! APA SALAHKU PADAMU TUHAN?! SHOLAT DAN IBADAH SELALU KULAKUKAN DENGAN BAIK!!! TUHAN KEMBALIKAN MEREKA!!!” pertahanan Anna rapuh seketika. Tangisnya meledak. Sinar matanya kian redup. Bila merengkuhnya erat.
“apa salahku bil? Apa salahku pada Allah, Bil? Kenapa Dia ngelakuin ini Bil? Aku sayang mereka, tapi mereka jahat sama aku. Mereka janji bakal nemenin aku sampai aku dewasa. Tapi mereka ngingkarin janji. Aku punya siapa sekarang??? Bila, apa Allah marah???” Tangis Anna makin pecah. Pernyataan dan pertanyaan menunjukan penyesalan dan penuntutan. Bila tidak dapat menjawab pertanyaannya. Dan mungkin Anna tidak membutuhkan jawabannya. YaAllah, kuatkanlah sahabatku…ampunilah dia dalam ucapannya yang kemungkinan sedang khilaf.. doa Bila dalam hati. Tangis Anna semakin  menjadi. Sinar matanya kini telah menghilang, sembab di matanya menunjukan bahwa dia sudah tak mampu menerima beban ini sendirian, dia tak ingin sendirian.
“aku malu Bil, aku malu. Aku belum sempat meminta maaf pada ibuku. Aku belum sempat membuat ibuku bahagia. Aku hanya nyusahin mereka. Aku hanya dapat berbohong pada mereka. Aku jahat sama mereka. Tapi mereka lebih jahat lagi sama aku, mereka ninggalin aku di saat aku butuh mereka. Di saat aku merasa manusia yang paling beruntung memiliki orangtua sebaik mereka. Tapi mereka pergi gitu aja. Aku hina bil. Aku hina!!!!!” Anna mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Semakin lama pernyataannya terdengar memaki dirinya sendiri. yaAllah, aku tak mampu melihatnya seperti ini, aku benar-benar tak mampu… batin Bila.


“Hidup bukanlah tentang satu hal. Semua akan kembali pada-Nya, dan kita harus mengikhlaskannya. Percayalah,  selalu ada pelangi disela-sela hujan.” – Aku.

Tuesday, May 1, 2012

Ketulusan Hati


Karya: Hasna Hafizhah Salma

 





Danisa terpaku. Tak ada yang bisa dia lakukan selain melihat dari kejauhan. Tubuh Danisa melemah seketika. Danisa tak tahu  apa yang terjadi, yang dia tahu hanya satu, ia ingin menangis. Sudah lama Danisa memendam ini semua, tidak ada yang tahu selain dia dan Tuhan. Danisa tak mampu mengukir berbagai kata atas kesedihannya. Ingin tersenyum namun tak mampu, ingin berteriak rasanya sekeras apapun ia berteriak tak ada satupun suaranya yang terdengar. Saat ini ia merasa Tuhan benar-benar tidak adil.
            “Dan…” Suara lembut terdengar memanggilnya. Danisa menoleh. Ibu. Tanpa menunggu apapun, Danisa langsung memeluk erat ibunya, seakan mengatakan “ibu kuatkan aku”. Ibunya memeluk lembut dan penuh sayang. Danisa sudah tidak mampu menahannya sendirian, Danisa terisak. Ibu mempererat pelukannya dengan lembut.
“Bu, aku menyayanginya..” ucap Danisa lirih.
            Setelah hari pemakaman Farhan, sudah tidak ada lagi yang dapat menghibur Danisa. Farhan sahabatnya yang bisa mengerti dan selalu membuatnya nyaman. Danisa mengerti, bersahabat dengan lawan jenis memungkinkan jatuhnya perasaan lain. Seperti dirinya saat ini. Namun, sebisa mungkin Danisa menahan perasaannya. Menitipkannya pada Yang Maha Kuasa. Menjadikannya motivasi atas dirinya, berusaha mungkin tidak menodai rasa yang fitrah itu.
            Tak ada yang mengerti perasaan Danisa bagaimana. Sampai Farhanpun hanya mengetahui Danisa menganggapnya sahabat, tidak lebih. Farhan yang saat itu sedang gila dengan yang namanya perempuan, menceritakan semuanya pada Danisa. Danisa menanggapinya dengan bijak, tidak memikirkan dirinya dan perasaannya. Dia memendam dalam-dalam, walau perlahan hatinya tersayat halus. Danisa paham mengenai agama, sebisa mungkin dia tidak membawa perasaannya, sebisa mungkin dia menempatkannya pada hal yang tepat. Danisa terlihat manis dengan balutan jilbab di tubuhnya, dia bersahabat dengan Farhan namun menjaga sebisa mungkin kehormatannya. Tidak pernah Danisa bersentuhan dengan lawan jenisnya, tak terkecuali Farhan.
            Banyak perempuan di sekolahnya yang menyukai Farhan dan mendekatinya hanya sekedar mengorek informasi mengenai Farhan. Danisa hanya memberi tahu kebaikan yang Farhan miliki, itu membuat teman-teman perempuan Danisa semakin menyukai Farhan. Namun Farhan tidak pernah mengubrisnya. Farhan yang terkesan kalem mempunyai sejuta rahasia tersimpan rapih dalam memori Danisa, membuatnya semakin menarik. Danisa selalu menitipkan kembali apa yang diceritakan Farhan padanya kepada Tuhan. Danisa menaruh harapan pada Tuhan, dan berharap Tuhan senantiasa menjaga perasaannya hingga tidak berzina. Danisa hanya ingin, Farhan bahagia. Dia tidak menginginkan apapun darinya. Danisa selalu mendoakan Farhan dalam tiap sujudnya. Namun di saat dia sudah benar-benar ikhlas dan menitipkan seluruh perasaannya pada Tuhan, Tuhan mengujinya. Seakan Tuhan menginginkan seberapa Danisa telah mengikhlaskannya dan menitipkan pada- Nya. Farhan pergi meninggalkannya, bukan untuk sementara waktu namun selamanya. Sayatan luka di hatinya perlahan membesar, Danisa mencoba perlahan memperbaikinya. Tak pernah berhenti mendoakan Farhan dalam tiap bait doanya. Ibunya pun, penguat dirinya selalu disebutnya dalam bait-bait doa malamnya. Terimakasih Tuhan, atas rasa yang Kau berikan ini. Kau memberiku kesempatan mengenai arti ketulusan. Hati Danisa berbicara.
            “Bu, terimakasih.” Danisa memeluk ibu erat.
“Untuk?” ibu membalas pelukan Danisa dengan lembut. Danisa tersenyum.
“semuanya”.