karya Hasna Hafizhah Salma
mengukir cinta dalam asa
merajut mimpi dalam belenggu
takkan sampai pada haluan
melambung tinggi harap tak sampai
tak pantas untuk melukai
menjadi jiwa menepi hati
mengikhlaskan sebagian diri
merelakan berbalas kasih
jauh tak pernah kembali
meninggalkan hamparan pedih
cerita palsu terus terukir
dalam derita penuh tawa
aku yang mencintaimu
dalam diam dalam semu
kugenggam namun tak mampu
biarlah berlalu bersama waktu
aku yang peduli terhadapmu
menahan hati untuk menunggu
walau tak kunjung kau mengaku
biarlah hati tertahan menyeru
Saturday, May 12, 2012
notitle~
karya Hasna Hafizhah Salma
entah apa yang harus kukatakan,
haruskah aku menangis?
utarakan maksud hati?
tanpa harus ku berpura-pura
atau haruskah kulalui
cerita hati tanpa menepi
berlalunya waktu sendiri
menuju hati kian pasti
begitu rumit untuk kujelaskan
terlalu rapuh untuk kujabarkan
penuh tawa sembunyikan derita
perih hati makin merana
entah apa yang harus kukatakan,
haruskah aku menangis?
utarakan maksud hati?
tanpa harus ku berpura-pura
atau haruskah kulalui
cerita hati tanpa menepi
berlalunya waktu sendiri
menuju hati kian pasti
begitu rumit untuk kujelaskan
terlalu rapuh untuk kujabarkan
penuh tawa sembunyikan derita
perih hati makin merana
Friday, May 11, 2012
notitle~
karya hasna hafizhah salma
jerit hati tak menentu
tertahan sedih yang berliku
tersenyum palsu di tengah kaku
menarik rindu dalam bisu
aku berlari menembus waktu
membelah jalan menahan pilu
bertabur derita tawa palsu
hinaan diri makin menusuk
setia dalam menunggu
harap cemas bercampur satu
semuanya terukir penuh
dalam cerita berbatas waktu
kutinggalkan hamparan ragu
meninggalkan asa dalam belenggu
kupaksakan hati menuju
tak kembali pada yang lalu
jerit hati tak menentu
tertahan sedih yang berliku
tersenyum palsu di tengah kaku
menarik rindu dalam bisu
aku berlari menembus waktu
membelah jalan menahan pilu
bertabur derita tawa palsu
hinaan diri makin menusuk
setia dalam menunggu
harap cemas bercampur satu
semuanya terukir penuh
dalam cerita berbatas waktu
kutinggalkan hamparan ragu
meninggalkan asa dalam belenggu
kupaksakan hati menuju
tak kembali pada yang lalu
Senada Harap dalam Badai
karya Hana Nabilah
Serumit nada dalam diam
merengkuh hina bercampur darah
tertutup keji dibalut suara
melambai indah tertarik angan
penari janji bertabur dusta
menarik hidup dan jalurnya
sepahit racun pada tawa
menetes cinta terhapus dendam
teriakan padu mengalun tajam
menuju harap berlatas palsu
tersungging indah senyum paksaan
merajut kasih berjarum hitam
terlampau benci dibalas rindu
menyunting kisah dibalik awan
kau tak harus menyentuh langit
karena tinggi terlalu kejam
melukis arah terbawa harap
menyunting kisah dibalik awan
sehelai rambut memaksa diam
menyerapi hidup kelu tanpa jeda
menghentikan angan tinggi
tertarik kutu tak tahu diri
sehelai yang tak berguna
menyendiri diatas lahan tanpa kawan
tertahan akar berlapis baja
meratap hidup bukan jalannya
seikat ijuk menghapus duka
membelai kasih berserak cinta
menyapu pasir yang tak berguna
terinjak telapak berkuman seribu
membawa hidup ke dunia lain
kehidupan baru di alam mimpi
setitik semangat tinta harapan
menggoreskan seulas senyum diatas awan
menerka tawa berbalas hina
terbantu burung menarik terbang
memanah tujuan hidup
tak selalu disaut ceria
petir api merusak langit
menoreh kisah berlatar kehampaan
satu dalam seribu
menjilat bulu putih bertekstur lembut
lidah tak berdosa menjadi senjata
menelan berjuta bakteri tanpa pinta
matahari membakar kulit dengan paksa
berjuta lalat hitam menyergapinya
meminta lebih dan tak ada habisnya
rasa puas sirna tanpa perintah
terlelap diri dan indahnya
lautan keringat mengalir deras
mematahkan tulang-tulang tak berdaya
menggerogoti pikiran untuk bahagia
terlena mata dengan hijaunya
selembar pun akan terampas
tak ada ampun untuk terus berjuang
mengorek peruntungan demi memilikinya
maksud hati melukis tawa
tak sampai arah karena badainya
tertumpah warna diatas awan
mengubah rasa menjadi harap
tertutup awan berubah gelap
jingga langit mengajak diri terbang
menorehkan suka dengan anginnya
terpatah tatap diujung luka
menyingkirkan ego pada teriknya
Serumit nada dalam diam
merengkuh hina bercampur darah
tertutup keji dibalut suara
melambai indah tertarik angan
penari janji bertabur dusta
menarik hidup dan jalurnya
sepahit racun pada tawa
menetes cinta terhapus dendam
teriakan padu mengalun tajam
menuju harap berlatas palsu
tersungging indah senyum paksaan
merajut kasih berjarum hitam
terlampau benci dibalas rindu
menyunting kisah dibalik awan
kau tak harus menyentuh langit
karena tinggi terlalu kejam
melukis arah terbawa harap
menyunting kisah dibalik awan
sehelai rambut memaksa diam
menyerapi hidup kelu tanpa jeda
menghentikan angan tinggi
tertarik kutu tak tahu diri
sehelai yang tak berguna
menyendiri diatas lahan tanpa kawan
tertahan akar berlapis baja
meratap hidup bukan jalannya
seikat ijuk menghapus duka
membelai kasih berserak cinta
menyapu pasir yang tak berguna
terinjak telapak berkuman seribu
membawa hidup ke dunia lain
kehidupan baru di alam mimpi
setitik semangat tinta harapan
menggoreskan seulas senyum diatas awan
menerka tawa berbalas hina
terbantu burung menarik terbang
memanah tujuan hidup
tak selalu disaut ceria
petir api merusak langit
menoreh kisah berlatar kehampaan
satu dalam seribu
menjilat bulu putih bertekstur lembut
lidah tak berdosa menjadi senjata
menelan berjuta bakteri tanpa pinta
matahari membakar kulit dengan paksa
berjuta lalat hitam menyergapinya
meminta lebih dan tak ada habisnya
rasa puas sirna tanpa perintah
terlelap diri dan indahnya
lautan keringat mengalir deras
mematahkan tulang-tulang tak berdaya
menggerogoti pikiran untuk bahagia
terlena mata dengan hijaunya
selembar pun akan terampas
tak ada ampun untuk terus berjuang
mengorek peruntungan demi memilikinya
maksud hati melukis tawa
tak sampai arah karena badainya
tertumpah warna diatas awan
mengubah rasa menjadi harap
tertutup awan berubah gelap
jingga langit mengajak diri terbang
menorehkan suka dengan anginnya
terpatah tatap diujung luka
menyingkirkan ego pada teriknya
Wednesday, May 9, 2012
notitle~
kurelakan engkau berlari,
mengejar asa kian jauh,
hamparan hati mulai mengabu,
kelabu datang menunggu...
kurelakan engkau melepas,
setitik demi setitik,
genggaman dalam kalbu,
yang kian memalsu...
kurelakan engkau bahagia,
menggenggam penuh kebahagiaan,
di saat kamu menggapainya,
kutitipkan salam pada angin
aku mulai merapuh,
mengapung di atas abu...
mengejar asa kian jauh,
hamparan hati mulai mengabu,
kelabu datang menunggu...
kurelakan engkau melepas,
setitik demi setitik,
genggaman dalam kalbu,
yang kian memalsu...
kurelakan engkau bahagia,
menggenggam penuh kebahagiaan,
di saat kamu menggapainya,
kutitipkan salam pada angin
aku mulai merapuh,
mengapung di atas abu...
Diatas ceritamu~
karya Hasna Hafizhah Salma
ceritaku terukir diatas ceritamu,
takkan pernah kubiarkan,
dirimu yang melayu dalam genggaman,
bila itu harus,
aku akan merelakanmu...
takkan pernah kuizinkan,
kau melemah dalam pelukanku,
biar aku yang menjauh,
dari senyum palsumu...
hujan menyelimutinya,
mengukir setitik demi setitik
air mata dalam asa,
kalbu memaksakannya,
tersenyum walau sungguh terasa amat berat.
ceritaku terukir diatas ceritamu,
takkan pernah kubiarkan,
dirimu yang melayu dalam genggaman,
bila itu harus,
aku akan merelakanmu...
takkan pernah kuizinkan,
kau melemah dalam pelukanku,
biar aku yang menjauh,
dari senyum palsumu...
hujan menyelimutinya,
mengukir setitik demi setitik
air mata dalam asa,
kalbu memaksakannya,
tersenyum walau sungguh terasa amat berat.
Friday, May 4, 2012
welfare~
karya Hasna Hafizhah Salma
Hidup itu penuh rintangan. Bukan sekali dua kali, namun berkali-kali. Hidup itu punya banyak rasa, bukan hanya bahagia namun bisa juga sedih atau apapun. Hidup itu penuh dengan pilihan. Salah memilih, berakibat fatal bagi hidup itu sendiri. Dan hidup itu hanya sekali, jangan disia-siain sama pilihan yang salah.
Zahra berjalan tanpa tujuan. Dia hanya mengikuti kemana kakinya kan berjalan. Zahra bukan gadis yang tegas, hidupnya dipenuhi dengan kebimbangan. Dia tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Di saat Zahra menemukan persimpangan, ia tidak mampu memilih, ia tidak tahu harus memilih yang mana. Zahra hanya ingin kebahagiaan, ia tidak ingin salah pilih dan akhirnya sedih berkepanjangan. Zahra mampu beribu-ribu kali untuk tertawa, namun Zahra takut untuk terjatuh. Terlalu takut, sampai ia tak menemukan apapun dalam hidupnya. Datar.
Sampai suatu hari, Zahra merasa jatah bahagianya telah diambil oleh Tuhan. Ayahnya di PHK, ibunya sakit keras. Zahra yang tidak biasa dengan ketidakcukupan hanya mampu mengeluh dan mengeluh. Dadanya seakan sesak setiap ia tidak dapat menemukan sepeser uang di dompetnya. Bagi Zahra kebahagiaan hanyalah materi. Ayahnya frustasi, mabuk-mabukan dan tidak mengurus ibunya. Sakit yang diderita ibunya semakin parah. Zahra menahan tangis. Pilu untuk mengatakan bahwa ini nyata, bukan mimpi. Zahra ingin berteriak, namun suaranya sudah tidak mampu meneriakan apa yang ingin dikatakannya saat melihat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan membawa perempuan lain di rumahnya. Zahra hanya menahan nangis dan emosi. Ibunya yang semakin hari semakin memburuk, membuat Zahra harus banting tulang untuk mengobati ibunya. Semakin hari semakin buruk pula tingkah laku ayahnya. Setiap melihat hal-hal baru yang dikerjakan ayahnya selalu membuat dada Zahra sesak, seakan ingin mati saat itu juga.
Ibu Zahra sudah tidak tertolong. Ibu meninggalkannya sebatang kara. Zahra merasa bahwa Tuhan tidak adil, ia ingin tersenyum namun tidak mampu. Ia ingin menangis, namun tertahan. Sahabatnya hanya datang padanya saat ia kaya. Zahra merasa ingin memutar waktu, seperti dulu.
Ayahnya tidak ada perubahan sedikitpun, dia masih saja tetap mabuk-mabukan. Pada hari pemakaman ibu, ayahnya tidak terlihat batang hidungnya. Tidak ada yang menguatkan Zahra saat itu. Dia merasa, Tuhan sedang mengujinya.
Di hari yang berbeda, Zahra mencoba mengikhlaskan semuanya. Kini ia tinggal bersama paman dan bibinya. Zahra hendak berjalan-jalan mencari ketenangan. Saat ia sedang duduk dan menunggu bis datang di halte, seorang pengemis mendatanginya. Saat itu Zahra hanya mempunyai sepeser uang lima ribu. Pengemis itu terlihat tampak lelah, Zahra tidak tega melihatnya. Zahra memberikan uang satu-satunya miliknya kepada pengemis itu. Pengemis itu tersenyum sembari mengucapkan terimakasih dan mendoakannya. Uangnya sudah habis. Zahra tidak jadi naik bis, dia berjalan kaki menuju rumah pamannya. Lelah yang biasa ia rasakan kini tidak terasa sama sekali. Hanya perasaan bahagia bercampur lega dari dalam hatinya. Di sudut persimpangan dekat rumah pamannya, Zahra melihat seorang gembel mendatangi seorang pengemis dan meminta sepeser uang. Zahra tau pengemis itu hanya memiliki makanan yang hendak dimakannya itu, pengemis tadi tidak jadi memakannya, ia memberikannya pada gembel yang mendatanginya. Zahra merasa hatinya teduh.
Sampai di rumah pamannya, ia melihat ayahnya sedang menunggu di ruang tamu. Ayahnya tersenyum padanya, rambutnya beserta pakaiannya sangat rapih. Zahra hendak memasuki rumah pamannya, ayahnya memeluk dengan erat. Zahra ragu untuk membalasnya.
“ayah sudah mendapat pekerjaan lagi. Maafkan ayah yang menyia-nyiakan sisa hidup ibumu dan kamu Zahra. Ayah berjanji akan membahagiaakanmu sampai ayah kembali pada-Nya.” Zahra tidak mampu berkata apapun. hening seketika. Hanya terdengar isakan pelan Zahra. Ayahnya melepaskan pelukannya. Zahra mengangguk dan tersenyum.
Kini semuanya terasa membahagiakan. Zahra selalu mencoba ikhlas dan bersyukur atas apa yang telah ia miliki. Ia selalu merasa bahagia dari dasar hatinya. Tidak terpaksa, tidak karena materi. Kebahagiaannya berawal dari sebuah kebaikan dan ketulusan. Tuhan selalu adil dengan cara-Nya sendiri. J
“kebahagiaan bukan apa yang kamu miliki. Kebahagiaan berasal dari hati nuranimu yang bersedia menerima apapun atas dirimu.” – anonim.
Subscribe to:
Posts (Atom)